Menjadi Manager atau Specialist?

Dulu saya sempat berdiskusi dengan Senior di tempat saya bekerja , diawali karena saya menceritakan keinginan saya untuk Kuliah S2 dibidang IT serta mengikuti seminar-seminar ilmu IT terbaru. Lalu dia mencoba menchallenge saya, untuk apa belajar ilmu tersebut? Memangnya akan kamu gunakan? Dari situ ia mulai menjelaskan bahwa saya harus bisa membuat keputusan untuk menjadi seorang Manager kelak atau seorang Specialist.

Mana yang lebih cocok untuk saya? Menjadi Manager atau Specialist?

Jawaban pertanyaan tersebut akan berbeda untuk setiap orang dan harus dimulai dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan lain sebelumnya.

Seorang Manager harus mampu memanage (sesuai namanya), melakukan komunikasi baik keatas maupun kebawah,  mengeluarkan kemampuan tersembunyi dari Staffnya bersamaan dengan menekan kekurangan mereka. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan skillset yang berbeda dengan menjadi Teknisi/Specialist.

Sebagai contoh jika di suatu perusahaan IT, programmer yang paling pintar dijadikan Project Manager belum tentu kepintaran dia bercoding menjadikan dia Project Manager yang baik. Bisa jadi dia justru akan gagal karena tidak mampu melakukan Project Management dengan baik. Diperlukan kemampuan untuk menjaga Timeline, mempush User/Klient serta menjaga Ekspektasi mereka, menjaga produktifitas Staff, dll. Seluruh Skill tersebut tidak berhubungan langsung dengan coding. Kebanyakan Skill ini memerlukan kita untuk dapat berkomunikasi dengan baik sehingga orang introvert mungkin kurang cocok menjadi Manager.

Banyak yang beranggapan kalau sudah menjadi Manager itu lebih baik atau bahkan bisa mendapatkan Gaji lebih besar, tetapi jangan salah, menjadi Specialist atas ilmu yang belum dikuasai banyak orang bisa memberikan harga yang sangat tinggi. Contohnya dibagian Pengeboran dimana pekerja kontrak dengan ilmu-ilmu kebumian dinilai sampai ratusan juta. Tetapi mereka ada di posisi dimana harus selalu mengembangkan diri. Apalagi bila berhubungan dengan technologi. Seorang Web Programmer/Designer Specialist untuk dapat memberikan harga yang tinggi harus tetap up-to-date dengan ilmu-ilmu terbaru. Cocok untuk mereka yang selalu ingin belajar hal baru.

Saya sih pasti tidak mau bayar tinggi Freelancer/Contractor yang hanya punya skill pas-pasan. Tetapi jika dia punya Portfolio yang memukan dan skill yang tinggi tentu saya berani bayar mahal.

Tetapi apakah Manager berarti harus putus hubungan dengan ilmu Technical?

Alasan saya Enggan menjadi Manager dulu karena takut nanti tidak lagi bisa belajar coding sedangkan saya sangat cinta dengan dunia IT dan Coding. Kenyataannya saya masih dapat belajar dan mencoba-coba hal baru di posisi manager bahkan bisa membuat project-project baru dengan ilmu yang dipelajari tersebut.

Jadi saran saya:

Jika ingin menjadi Manager harus menguasai management dan people skills. Mungkin terdengar boring tetapi posisi manager lebih banyak memiliki waktu luang untuk belajar maupun untuk keluarga. Cocok untuk yang memiliki people skills dan managing skills.

Jika ingin menjadi Specialist harus selalu mengembangkan diri. Jadilah yang terdepan dengan ilmu-ilmu terbaru agar kita dapat tetap memberikan harga tinggi atas kemampuan kita. Tetapi sebagai akibatnya waktu kita menjadi terbatas, kita harus Bekerja + mengembangkan diri. Cocok untuk yang Introvert atau gemar mempelajari ilmu-ilmu baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published.